MENGENAL GEJALA PENYAKIT DAN TANDA PADA TANAMAN
I. PENDAHULUAN
1.1. Dasar Teori
Dilihat dari segi biologi, penyakit tanaman merupakan terjadinya
perubahan fungsi sel dan jaringan inang sebagai akibat gangguan yang
terus menerus oleh agensi patogen atau faktor lingkungan dan
berkembangnya gejala. (Desy, 2010).
Penyebab munculnya penyakit pada tanaman bisa terjadi karena di
suatu tempat ada tanaman, patogen, serta lingkungan (segitiga penyakit
karena tiga faktor). Agar muncul penyakit pada tanaman, maka ketiga
faktor tersebut harus memenuhi syarat berupa tanaman harus peka,
penyebab penyakit harus ganas, dan lingkungan mendukung. Akan tetapi,
adanya keikusertaan manusia dalam pembudidayaan tanaman dapat
mempengaruhi tiga faktor sebelumnya, karena manusia dapat menciptakan
kondisi dimana penyebab penyakit dapat berkembang dengan baik.
( Ririnpunto, 2011).
Gejala penyakit tanaman adalah kelainan atau penyimpangan dari keadaan
Gejala penyakit tanaman adalah kelainan atau penyimpangan dari
keadaan normal tanaman akibat adanya gangguan penyebab penyakit dan
gejala dapat dilihat dengan mata telanjang. Berdasarkan sifatnya, ada
dua tipe gejala: a). Gejala lokal, yaitu gejala yang dicirikan oleh
perubahan struktur yang jelas dan terbatas. Biasanya dalam bentuk
bercak atau kanker. Gejalanya terbatas pada bagian-bagian tertentu dari
tanaman (pada daun, buah, akar). b). Gejala sistemik, yaitu kondisi
serangan penyakit yang lebih luas, bisanya tidak jelas batas batasnya.
Contohnya adalah serangan oleh virus mosaic, belang maupun layu.
Gejalanya terdapat di seluruh tubuh tanaman (layu, kerdil). (Fahmi,
2012).
Berdasarkan bentuknya gejala penyakit tumbuhan dibagi menjadi dua,
yaitu : a). Gejala Morfologi : gejala luar yang dapat dilihat dan dapat
diketahui melalui bau, rasa, raba dan dapat ditunjukkan oleh seluruh
tumbuhan atau tiap organ dari dari tumbuhan. b). Gejala Histologi :
gejala yang hanya dapat diketahui lewat pemeriksaan- pemeriksaan
mikroskopis dari jaringan yang sakit. (Fahmi, 2012).
Gejala histologi dapat dibedakan menjadi 3 tipe gejala, yaitu :
- Gejala Nekrotik
Gejala nekrotik terjadi karena adanya kerusakan pada sel atau bagian
sel bahkan kematian sel. Gejala nekrotik dibagi menjadi : 1). Nekrosis
atau matinya bagian tanaman Sekumpulan sel yang terbatas dalam jaringan
tertentu mati dan pada alat tanaman terlihat adanya bercak-bercak atau
bintik-bintik hitam. 2). Hidrosis disebabkan karena air sel keluar dari
ruang sel masuk kedalam ruang sela-sela sel, bagian ini akan tampak
kebasah-basahan. 3). Klorosis, yaitu rusaknya kloroplas yang menyebabkan
menguningnya bagian-bagian yang lazimnya berwarna hijau. 4). Layu,
yaitu gejala sekunder yang disebabkan karena adanya gangguan dalam
berkas pengangkutan atau adanya kerusakan pada susunan akar yang
menyebabkan tidak seimbangnya penguapan dengan pengangkutan air. 5).
Gosong atau scorch yang sering disebut terbakar adalah mati dan
mengeringnya bagian tanaman tertentu hampir sama dengan gejala nekrosis.
6). Mati ujung, biasanya terjadi pada ranting atau cabang yang dimulai
dari ujungnya baru meluas kepangkal. 7). Busuk yang disebabkan karena
rusaknya sel-sel atau jaringan-jaringan. Busuk dipakai untuk
bagian-bagian yang tebal seperti buah, batang, akar. Busuk terbagi
menjadi dua yaitu busuk basah dan busuk kering. Busuk basah biasanya
disertai bau yang tidak enak atau cairan-cairan yang kental biasanya
terjadi pada bagian tanaman yang berdaging, sedangkan busuk kering
jarang berbau. 8). Rebah semai jamur yang biasanya menyerang adalah
jenis Rhizoctonia, Sclerotium, Fusarium, Phytium, Phytophthora dan
menyebkan batang membusuk atau tanaman rebah. 9). Kanker, gejala ini
lazimnya terjadi pada bagian-bagian yang berkayu pada batang, ranting
ataupun akar. 10). Perdarahan atau eksudasi, gejala ini biasanya
ditunjukkan dengan adanya cairan-cairan yang keluar bagian tanaman.
(Fahmi, 2012). Contoh Pada kedelai diketahui ada dua jenis penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri, yaitu penyakit pustul dan hawar. Jika menyerang varietas yang rentan dan serangannya parah, kedua penyakit tersebut menimbulkan kehilangan hasil cukup tinggi. Besarnya kerugian hasil juga dipengaruhi oleh keganasan bakteri dan dukungan kondisi lingkungan pertanaman kedelai. Di Amerika Serikat dilaporkan bahwa kehilangan hasil kedelai akibat penyakit pustul mencapai 20 – 50% (Anonim 2008).
Penyakit pustul atau bisul pada kedelai disebabkan oleh bakteri
Xanthomonas axonopodis pv. glycines (Sung-Jun et al. 2011). Di daun yang
terinfeksi muncul bercak atau bisul kecil, awalnya bercak berwarna
hijau pucat kemudian berubah menjadi kecoklatan. Ciri khas bercak pustul
adalah di bagian tengahnya terdapat noda berwarna kecoklatan dengan
bagian tepi bercak berwarna pucat sampai kekuningan, bentuknya tidak
teratur, dan jaringan selnya mati (nekrosis). Bercak yang saling
berdekatan letaknya, dapat menyatu menghasilkan bercak dengan ukuran
lebih lebar, menyebabkan daun menguning (klorosis) dan sering diikuti
dengan daun gugur lebih awal hal ini mengganggu pengisian polong. Gejala
pustul sering muncul pada fase berbunga pada umur sekitar 40 hari, dan
daun muda paling rentan infeksi. Bakteri tidak hanya menyerang daun,
tetapi menyerang polong dan biji kedelai. Biji yang terinfeksi
seringkali tidak memperlihatkan gejala kerusakan yang khas atau masih
nampak normal.
Bakteri penyebab penyakit hawar kedelai adalah Pseudomonas savastanoi
pv. glycinea. Gejala awal berupa bintik atau bercak kecil berwarna
coklat pada daun. Noda terus berkembang melebar bentuknya mirip sudut,
tembus ke permukaan bawah daun, dan muncul warna kekuningan. Bercak yang
melebar dapat bergabung sehingga membentuk bercak lebih besar dan
akhirnya daun menguning, kering, dan akhirnya rontok. Penyakit muncul
lebih parah dalam cuaca dingin dan hujan. Dalam kasus yang parah,
penyakit ini menyebabkan gugur daun, tetapi tidak membunuh seluruh
tanaman. Penyakit ini jarang menyerang benih, tetapi ketika bercak
muncul pada polong maka mengganggu pembentukan biji. Secara sepintas
gejala serangan bakteri hawar (blight) mirip dengan bakteri pustul.
Perbedaan yang mencolok adalah daun yang terserang bakteri hawar
menimbulkan kerusakan di permukaan atas daun tembus hingga bawah daun,
bercak bentuknya agak menyudut.
Gambar 2. Gejala penyakit hawar pada daun kedelai.
Kedua penyakit ini serangannya terjadi di daun dan secara sepintas gejalanya sangat mirip. Kekeliruan dalam mendiagnosis penyakit akan berdampak pada kekeliruan pengendaliannya, oleh karena itu karakter khas di antara penyakit-penyakit tersebut perlu dikenal dengan baik sebagai dasar menentukan tindakan pengendaliannya. Serangan bakteri pustul dan hawar kemungkinan terjadi secara bersamaan di suatu populasi kedelai, untuk membedakannya perlu dikenali karakter masing-masing penyakit
Gambar 2 Hawar daun pada tanaman kedelai
Penyakit bakteri sulit dikendalikan dengan hanya satu cara dan sejauh
ini belum ada cara pengendalian yang efektif untuk mengendalikan pustul
dan hawar kedelai. Oleh karena itu cara yang bijaksana adalah melakukan
pencegahan agar penyakit tidak berkembang parah, melalui beberapa cara
berikut ini:Pengendalian Penyakit- Varietas Tahan. Bila tersedia varietas tahan dianjurkan untuk menanam varietas tersebut. Varietas Anjasmoro berdasarkan pengamatan lapangan ada indikasi agak rentan penyakit pustul.
- Sanitasi Lahan. Membakar dan membenam sisa tanaman sakit pada kegiatan persiapan lahan dapat mengurangi sumber infeksi untuk mencegah munculnya penyakit baru di musim tanam berikutnya. Dianjurkan untuk menghindari tanam kedelai di lahan yang tercemar oleh bakteri pustul dan hawar.
- Pergiliran Tanaman. Kedelai dirotasi dengan jenis bukan inang bakteri misalnya jagung, padi, dan serealia lain.
- Pengendalian Hayati. Bakteri agens pengendali hayati (APH) yang memicu munculnya ketahanan tanaman seperti Bacillus spp., dan Pseudomonas fluorescens sangat potensial digunakan untuk menekan serangan bakteri pustul dan hawar (Habazar et al. 2012; Rahayu 2012).
- Pengendalian Kimiawi. Bakterisida dengan komposisi senyawa tembaga yang diketahui efektif menekan bakteri parasit tanaman sering digunakan pada tanaman hortikultura, sangat potensial diaplikasikan untuk pengendalian bakteri kedelai.
DAFTAR PUSTAKA
-
Agrios,
George N. (1995). Ilmu Penyakit Tumbuhan. Terjemahan oleh: Ir. Munzir
Bosnia, M Si dan
- Ir.
ToekidjoMartoredjo, M Sc. Fakultas
Pertanian Andalas dan Fakultas Pertanian UGM. Gadjah Mada University Press.
-
Barnes,
Ervin H. Atlas and Manual of Plant Pathology. Appleton-Century-Crofts.
New York.
- Rukmana, R
dan Saputra, Sugandi. (1997). Penyakit Tanaman dan Teknik Pengendaliannya.Kanisius
. Yogyakarta.
-
Jones,
D.Gareth. (1984). Plant Pathology. Open University Press. Milton Keynes,
England.
-
Triharso (1994). Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Fakultas Pertanian UGM
Yogyakarta.

Komentar
Posting Komentar