DETEKSI DINI PENYAKIT DAN PENGENDALIANNYA


          DETEKSI DINI GEJALA PENYAKIT DAN PENGENDALIANNYA


Salah satu faktor pembatas dalam keberhasilan tanaman untuk tumbuh optimal yaitu adanya serangan penyakit. Identifikasi penyakit penting dilakukan karena berkaitan dengan teknik pengendalian. 

A. GEJALA PENYAKIT TUMBUHAN

Di dalam mempelajari ilmu penyakit tumbuhan (Fitopatologi) sebelum seseorang melangkah lebih lanjut untuk menelaah suatu penyakit secara mendalam, terlebih dahulu harus bisa mengetahui tumbuhan yang dihadapi sehat ataukah sakit. Untuk keperluan diagnosis, maka pengertian tentang tanda dan gejala perlu diketahui dengan baik.













Faktor yang mempengaruhi dapat tidaknya tanaman diserang oleh patogen, dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
1. Predisposisi apabila faktor yang menyebabkan kenaikan kerentanan atau penurunan  ketahanan itu berupa faktor luar seperti suhu, kelembaban dan lain-lain.
2. Disposisi apabila faktor yang menyebabkan kenaikkan kerentanan itu berasal dari dalam artinya bersifat genetis atau bawaan.
Berdasarkan ekspresinya penyakit dapat dibedakan menjadi :
1. Endemi (Enfitosis) yaitu penyakit yang selalu timbul dan menyebabkan kerugian yang cukup berarti.
2. Epidemi (Epifitosis) yaitu penyakit yang timbulnya secara berkala dan menimbulkan kerugian yang cukup berarti.
3. Sporadis yaitu penyakit yang timbulnya tidak menentu dan tidak menimbulkan kerugian yang berarti.

Siklus ini biasanya dapat dibedakan menajadi : 

1. Stadium Patogenesis adalah stadium patogen di mana berhubungan dengan jaringan hidup tanaman inangnya. 2. Stadium Saprogenesis adalah stadium patogen di mana tidak berhubungan dengan jaringan hidup tanaman inangnya . Berdasarkan kondisi sel yang dipakai sebagai sumber makanannya maka parasit atau patogen dapat dibedakan menjadi : 1. Patofit apabila parasit itu mengisap makanan dari sel inang yang masih hidup. 2. Pertofit apabila parasit itu mengisap makanan dari sel inang yang dibunuhnya lebih dahulu.

Faktor yang mempengaruhi dapat tidaknya tanaman diserang oleh patogen, dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu : 1. Predisposisi apabila faktor yang menyebabkan kenaikan kerentanan atau penurunan  ketahanan itu berupa faktor luar seperti suhu, kelembaban dan lain-lain. 2. Disposisi apabila faktor yang menyebabkan kenaikkan kerentanan itu berasal dari dalam artinya bersifat genetis atau bawaan. Berdasarkan ekspresinya penyakit dapat dibedakan menjadi : 1. Endemi (Enfitosis) yaitu penyakit yang selalu timbul dan menyebabkan kerugian yang cukup berarti. 2. Epidemi (Epifitosis) yaitu penyakit yang timbulnya secara berkala dan menimbulkan kerugian yang cukup berarti. 3. Sporadis yaitu penyakit yang timbulnya tidak menentu dan tidak menimbulkan kerugian yang berarti. Tanggapan tanaman inang terhadap patogen dapat merupakan sifat dari tanaman inang tersebut dan dapat dibedakan menjadi : 1. Tahan apabila dalam keadaan biasa tanaman tersebut tidak dapat diserang oleh patogen. 2. Rentan apabila dalam keadaan biasa tanaman tersebut dapat diserang oleh patogen, jadi merupakan lawan dari tahan. 3. Toleran apabila dalam keadaan biasa dapat menyesuaikan diri dengan patogen yang berada dalam jaringan tubuhnya sehingga tidak mempengaruhi kemampuan produksinya. Bentuk yang ekstrem dari ketahanan tersebut disebut Kekebalan sedang bentuk ekstrem dari toleran disebut Inapparency, artinya dalam keadaan yang bagaimanapun juga tetap memiliki sifat tersebut.
  B.PENGENDALIAN PENYAKIT TUMBUHAN
            Cara pengendalian penyakit tanaman sebenarnya mengikuti 4 prinsip, yaitu    1)        Eksklusi patogen
Tujuan eksklusi adalah mencegah masuknya patogen ke wilayah yang masih bebas patogen atau penyakit. Bila patogen tidak kontak dengan tanaman inangnya maka infeksi atau penyakit tidak akan terjadi.
2)        Eradikasi patogen
Prinsip eradikasi bertujuan untuk memusnahkan atau mengurangi banyaknya patogen dari tempatnya berada, misalnya tanah, permukaan atau bagian tanaman, alat pertanian dan tempat penyimpanan. Upaya eradikasi dilakukan untuk mencegah penyebaran patogen yang lebih luas, antara lain dengan memusnahkan tanaman yang terinfeksi.
3)        Proteksi inang yang rentan
Proteksi atau perlindungan tanaman (inang) yang rentan terhadap penyakit dilakukan untuk melindungi tanaman dari kemungkinan terjadinya infeksi oleh patogen. Bila patogen telah berhasil melakukan infeksi maka upaya proteksi ditujukan untuk memperlambat laju perkembangan penyakit. Upaya untuk melakukan perlindungan secara langsung dapat dilakukan melakukan penggunaan agnes hayati atau perlakuan cara budidaya yang baik.)
4)Proteksi atau perlindungan tanaman (inang) yang rentan terhadap penyakit dilakukan untuk melindungi tanaman dari kemungkinan terjadinya infeksi oleh patogen. Bila patogen telah berhasil melakukan infeksi maka upaya proteksi ditujukan untuk memperlambat laju perkembangan penyakit. Upaya untuk melakukan perlindungan secara langsung dapat dilakukan melakukan penggunaan agnes hayati atau perlakuan cara budidaya yang baik.
5)        Resistensi inang
Tanaman tidak mempunyai sistem untuk memproduksi antibodi seperti halnya pada manusia atau hewan. Oleh karenanya tanaman tidak dapat memperoleh  ketahanan (imunisasi) melalui vaksinasi.walaupun demikian, ketahanan tanaman dapat diperoleh melalui perlakuan dengan jenis patogen tertentu.
Tanaman tidak mempunyai sistem untuk memproduksi antibodi seperti halnya pada manusia atau hewan. Oleh karenanya tanaman tidak dapat memperoleh  ketahanan (imunisasi) melalui vaksinasi.walaupun demikian, ketahanan tanaman dapat diperoleh melalui perlakuan dengan jenis patogen tertentu.
 C.   PENGENDALIAN PENYAKIT SECARA TERPADU  Beberapa aspek pennting dalam menyusun strategi pengendalian penyakit secara terpadu adalah : 1.   Tujuan utama adalah mengurangi inokulom awala dan mengurangi kecepatan peningkatan serta penyebaran patogen. 2.   Setiap tindakan pengendalian harus menguntungkan secara ekonomi dan lingkunga. 3.   Prinsip kehati-hatian dalam penggunaan bahan kimia. 4.  Praktek memerlukan pengetahuan yang memadai mengenai organisme pengganggu, lingkungan, dan pertanaman.   D TEKNIK BUDIDAYA UNTUK MENGURANGI SUMBER INOKOLUM.



























































































1.TeknikBudidaya Untuk Memusnahkan Atau Mengurangi Sumber Inokulum
Semua jenis patogen dapat terbawa bagian tanaman yang digunakan sebagai benih atau bahan propagasi (perbanyakan), seperti biji, umbi, tunas, bibit, stek.
2.        Eradikasi tanaman sakit
Untuk mencegah munculnya epidemi penyakit semua bahan tanaman yang (mungkin) terinfeksi harus segera dicabut dan dibakar. Tindakan tersebut dapat memusnahkan patogen dan menghindari kehilangan hasil yang lebih besar.
3.        Rotasi tanaman
Tindakan rotasi tanaman tersebut diharapkan dapat memutuskan siklus hidup patogen. Untuk beberapa kasus pemutusan siklus hidup patogen harus dilakukan melalui pemberaan lahan, yaitu tidak menemani lahan untuk jangka waktu tertentu. Perlakuan pengendalian tanah selama masa pemberaan dapat menyebabkan menurunnya populasi nematoda dan beberapa mikroorganisme tanah karena berpengaruh pemanasan dan kekeringan.
4.        Sanitasi
Perlakuan sanitasi bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi sumber inokulum yang mungkin terdapat pada (bagian) tanaman di lahan, atau di tempat penyimpanan sehingga penyebaran patogen dapat di hambat.
5.        Perangkap dan mulsaplastik
Perangkap plastik, yang berwarna kuning, telah diberi perekat dan umumnya terbuat dari bahan polietililen, dapat diletakkan di sepanjang sisi luar pertanaman.
 
E.      CARA HAYATI UNTUK MEMUSNAHKAN INOKULUM 
1.        Mikroorganisme antagonis
Mikroorganisme antagonistik dianggap sangat potensial sebagai alat untuk menekan perkembangan patogen tanaman, maka di kembangkan cara pengendalian penyakit melalui introduksi mikroorganisme antagonistik kemedia tumbuh tanaman supaya dicapai populasi yang efektif untuk mengendalikan penyakit.
2.        Tanaman perangkap
Dapat digunakan untuk mengendalikan nematoda, walaupun dengan cara yang berbeda.
3.        Varietas tahan
Penanaman varietas tahan tidak hanya mengurangi kehilangan hasil yang di sebabakan oleh infeksi patogen, tetapi juga mengurangi biaya aplikasi bahan kimia atau cara pengendalian penyakit lainnya, dan menghindari pencemaran lingkungan dari bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan penyakit.
 
F.      CARA FISIK UNTUK MENGURANGI INOKULUM
1.        Perlakuan suhu rendah atau pendinginan
Perlakuan pendinginan merupakan salah satu cara yang paling umum dilakukan untuk menghambat perkembangan penyakit pascapanen terutama untuk produk-produk segar, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.
2.        Perlakuan suhu tinggi atau pemanasan
Perlakuan pemanasan dapat diaplikasikan untuk bagian tanaman untuk propagasi, pada tanah sebelum tanam, dan di tempat penyimpanan. Perlakuan air panas untuk biji, umbi, atau bahan tanaman untuk propagasi dimaksudkan untuk membunuh patogen yang sudah menginfeksi atau yang berada pada permukaan bahan tanaman.
3.        Pengeringan
Tingkat kelembaban di tempat penyimpanan di usahakan berada pada tingkat 12%. Kondisi penyimpanan yang memiliki sistem pertukaran udara yang baik dapat menjaga kelembaban sehingga menekan aktivitas patogen-patogen pembusuk jaringan tanaman.
 
G.       CARA KIWIAWI UNTUK MEMUSNAHKAN ATAU MENGURANGI INOKULUM 
1.        Penyemprotan tajuk
Cara penyemprotan dan penghembusan merupakan cara apliksai yang banyak dilakukan, baik pada bagian daun, buah dan batang. Umumnya di lakukan untuk melindungi tanaman dari infeksi cendawan dan bakteri.
2.        Perlakuan benih
Perlakuan dengan bahan kimia pada biji, umbi, dan akar sebelum ditanam dimaksudkan untuk menghindari infeksi patogen busuk atau tebah kecambah yang terbawa oleh benih itu sendiri atau yang berasal dari tanah.
3.        Perlakuan tanah menggunakan bahan kimia
Fungisida yang diaplikasikan ketanah umumnya berupa tepung, atau butiran untuk mengendalikan rebah kecambah, hawar kecambah, busuk akar, dan penyakit lainnya. Sebagian besar perlakuan tanah dengan bahan kimia biasanya ditunjukan untuk mengendalikan nematoda.
4.        Disinfestasi ruang penyimpanan
Ruang penyimpanan yang memiliki sistem pengaturan kelembaban dan suhu yang baik dapat difumigasi secara efektif menggunakan bahan kloropikrin. Perlakuan fumigasi harus berlangsung minimum selama 24 jam sebelum pintu ruangan penyimpanan dibuka untuk memperoleh aerasi.
5.        Pengendalian serangga vektor
























































1.        Penggunaan bahan tanaman bebas patogen

Komentar

Postingan populer dari blog ini