MENGENAL PENYAKIT PADA TANAMAN CABAI

Luas pertanaman cabai menurut data terakhir sekitar 165.000 hektar dan merupakan suatu usaha budidaya yang terluas dibandingkan komoditas sayuran lainnya. Namun rata-rata nasional produksi cabai baru mencapai 5,5 ton/hektar (BPS 2000), masih jauh di bawah potensi hasilnya yang berkisar antara 12-20 ton/hektar. Salah satu kendala penyebab rendahnya produksi adalah gangguan penyakit yang dapat menyerang sejak tanaman di persemaian sampai hasil panennya. Penyakit pada cabai erat kaitannya dengan patogen. Kata patogen berarti sesuatu yang menyebabkan tanaman menderita. Oleh karena itu patogen atau penyebab tersebut tidak selalu berupa makhluk hidup (animate pathogen), tetapi juga sesuatu yang tidak hidup (inanimate pathogen) seperti virus, hara, air atau penyebab lainnya. Patogen penyebab penyakit dibagi dalam 
tiga kelompok sebagai berikut : 
1. Patogen yang hidup :
     patogen ini adalah makhluk hidup, dapat berpindah, menular dan berkembang biak. Patogen yang hidup menyebabkan penyakit pada tanaman didukung oleh kondisi dan jenis tanaman yang cocok, sehingga hanya patogen tertentu yang dapat menginfeksi dan berkembang pada tanaman tertentu. Bakteri, cendawan dan nematoda termasuk pada kelompok patogen yang hidup.
 2. Patogen virus : 
    kelompok virus terletak antara patogen yang hidup dan patogen yang mati. Di luar jaringan tanaman virus adalah hanya benda protein yang mati, tetapi begitu masuk ke dalam jaringan tanaman menjadi aktif, memperbanyak diri dan dapat menular. Perpindahan patogen virus ke tanaman lain harus ada agens pembawa. 
C. Penyakit pada Masa Pertumbuhan Vegetatif - Generatif 
1. Bakteri Penyakit : Bercak bakteri Patogen : Xanthomonas campestris p.v. vesicatoria (Xcv) Gejala : Bagian tanaman yang terserang ialah daun dan ranting. Bercak awal pada daun berukuran kecil berbentuk sirkuler  Busuk kering berwarna coklat karena infeksi penyakit rebah kecambah (Black et al. 1991). Gejala serangan Xcv (Xanthomonas campetris vesicatoris)pada daun berupa bercak-bercak coklat; bercak menyatu menjadi lebih besar dengan warna pinggiran berwarna jerami (Black et al. 1991) . Gejala di bawah permukaan daun - . Gejala di atas permukaan daun. Defoliasi (gugur daun) karena serangan Xanthomonas campetris vesicatoris (Xcv) parah (Black et al. 1991) spot berair kemudian menjadi nekrotik dengan warna coklat di bagian tengah dan pucat pada pinggirannya. Pada bagian atas daun bercak seperti tenggelam, sedangkan pada bagian bawah daun bercak seperti menonjol. Bercak yang menyatu akan berwarna coklat dengan pinggiran berwarna jerami . Gejala bercak bakteri pada daun dan ranting tidak berubah pada stadia pertumbuhan generatif. Serangan parah daun defoliasi.
Pencegahan dan pengendalian : 1. Tanah-tanah yang terkontaminasi penyakit layu jangan digunakan. Kontaminasi penyakit layu dapat dipelajari dari tanaman sebelumnya. 2. Membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman dan gulma sebelumnya. Membalik tanah agar terkena sinar matahari. 3. Pemupukan yang berimbang, yaitu Urea 150-200 kg, ZA 450-500 kg, TSP 100-150 kg, KCl 100-150 kg, dan pupuk organik 20-30 ton per hektar. 4. Peninggian guludan cabai mengurangi insiden penyakit layu. 5. Intercropping antara cabai dan tomat di dataran tinggi dapat mengurangi serangan hama dan penyakit serta menaikkan hasil panen. 6. Penggunaan mulsa plastik perak di dataran tinggi dan jerami di dataran rendah mengurangi infestasi antraknos dan penyakit tanah, terutama di musim hujan. 7. Tanaman muda yang terinfeksi penyakit di lapangan dimusnahkan dan disulam dengan tanaman yang sehat. 8. Ekstrak tanaman merigold (Titonia diversifolata) dalam air 1: 20 (berat/volume) efektif untuk mengendalikan antraknos. Campuran Azadirachta indica (nimba), Andropogon nardus (serai) dan Alpinia galanga (laos) pada perbandingan 8 : 6 : 6 dan 6 : 6 : 6 ; serta daun tembakau pada air 1 : 20 (berat/volume) juga efektif untuk mengendalikan antraknos. Efikasinya setara dengan Mancozeb 0,2%
9. Untuk mengurangi penggunaan pestisida (+ 30%) dianjurkan untuk menggunakan nozel (spuyer) kipas yang butiran semprotannya berupa kabut dan merata. Penyakit : Layu bakteri Patogen : Ralstonia solanacearum Gejala : Gejala layu tampak pada daun–daun yang terletak di bagian bawah. Setelah beberapa hari seluruh daun menjadi layu permanen, sedangkan warna daun tetap hijau (Gambar 7), kadang-kadang sedikit kekuningan. Jaringan vaskuler dari batang bagian bawah dan akar menjadi kecoklatan (Gambar 8). Apabila batang atau akar tersebut dipotong melintang dan dicelupkan ke dalam air jernih akan keluar cairan keruh koloni bakteri yang melayang dalam air menyerupai kepulan asap. Gejala penyakit ini akan sama pada tanaman dalam stadia pertumbuhan generatif. Pencegahan dan pengendalian : Lihat cara pengendalian 4.2.1 4.3.2. Cendawan Penyakit : Antraknos Patogen : Colletotrichum spp. Gejala : Mati pucuk yang berlanjut ke bagian bawah. Daun, ranting dan cabang busuk kering berwarna coklat kehitam-hitaman. Pada batang acervuli cendawan terlihat berupa benjolan
Pencegahan dan pengendalian : 1. Pemupukan yang berimbang, yaitu Urea 150-200 kg, ZA 450-500 kg, TSP 100-150 kg, KCl 100-150 kg, dan pupuk organik 20-30 ton per hektar.
2. Intercropping antara cabai dan tomat di dataran tinggi dapat mengurangi serangan hama dan penyakit serta menaikkan hasil panen. 3. Penggunaan mulsa plastik perak di dataran tinggi, dan jerami di dataran rendah mengurangi infestasi antraknos dan penyakit tanah, terutama di musim hujan. 4. Penyakit antraknos Colletotrichum spp. dikendalikan dengan fungisida klorotalonil (Daconil ® 500 F, 2g/l) atau Propineb (Antracol ® 70 WP, 2g/l). Kedua fungisida ini digunakan secara bergantian. 5. Untuk mengurangi penggunaan pestisida (+ 30%) dianjurkan untuk menggunakan nozel kipas yang butiran semprotannya berupa kabut dan merata. Penyakit : Bercak daun serkospora Patogen : Cercospora capsici Gejala : Gejala akan nampak pada daun, tangkai dan batang. Bercak daun Cercospora dapat menimbulkan defoliasi. Bercak berbentuk oblong (bulat) sirkuler dimana bagian tengahnya mengering berwarna abu-abu tua dan warna coklat dibagian pinggirannya, dan daun menjadi tua (menguning) sebelum waktunya (Gambar 9). Bercak berukuran 0,25 cm atau lebih besar bagi yang menyatu, bercak menyerupai mata kodok sehingga penyakit ini sering disebut bintik mata kodok (frog eyes). Pada penampakan satu tanaman banyak daun yang menguning sebelum waktunya. Pencegahan dan pengendalian : 1. Pemupukan yang berimbang, yaitu Urea 150-200 kg, ZA 450-500 kg, TSP 100-150 kg, KCl 100-150 kg, dan pupuk organik 20-30 ton per hektar. 2. Intercropping antara cabai dan tomat di dataran tinggi dapat mengurangi serangan hama dan penyakit serta menaikkan hasil
 panen. 3. Penggunaan mulsa plastik perak di dataran tinggi, dan jerami di dataran rendah mengurangi infestasi antraknos dan penyakit tanah, terutama di musim hujan. 4. Untuk bercak sercospora dianjurkan menggunakan daun mindi (Melia azederach) pada konsentrasi 1: 20 (berat/volume). 5. Penyakit bercak daun Cercospora capsici dikendalikan dengan fungisida difenoconazole (Score ®250 EC dengan konsentrasi 0,5 ml/l). Interval penyemprotan 7 hari. 6. Untuk mengurangi penggunaan pestisida (+ 30%) dianjurkan untuk menggunakan nozel kipas yang butiran semprotannya berupa kabut dan merata. Penyakit : Busuk daun Fitoftora Patogen : Phytophthora capsici Gejala : Seluruh bagian tanaman dapat terinfeksi oleh penyakit ini. Infeksi pada batang dimulai dari leher batang menjadi busuk basah berwarna hijau setelah kering warna menjadi coklat/hitam (Gambar 10). Serangan yang sama dapat terjadi pada bagian batang lainnya. Gejala melanjut dengan kelayuan yang serentak dan tiba-tiba dari bagian tanaman lainnya. Penyakit ini mematikan tanaman muda. Gejala lanjut busuk batang menjadi kering mengeras dan seluruh daun menjadi layu (Gambar 11). Gejala pada daun diawali dengan bercak putih seperti tersiram air panas berbentuk sirkuler atau tidak beraturan. Bercak tersebut melebar mengering seperti kertas dan akhirnya memutih karena warna masa spora yang putih. Di lapangan tanaman layu secara sporadis
Pencegahan dan pengendalian : \1. Pemupukan yang berimbang, yaitu Urea 150-200 kg, ZA 450-500 kg, TSP 100-150 kg, KCl 100-150 kg, dan pupuk organik 20-30 ton per hektar.
 2. Intercropping antara cabai dan tomat di dataran tinggi dapat mengurangi serangan hama dan penyakit serta menaikkan hasil panen.  
 3.Penggunaan mulsa plastik perak di dataran tinggi, dan jerami di dataran rendah mengurangi infestasi penyakit, terutama di musim hujan. 
4. Tanaman muda yang terinfeksi penyakit di lapangan dimusnahkan dan disulam dengan       yang sehat. 
5. Cendawan Phytophthora capsici dapat dikendalikan dengan fungisida sistemik Metalaksil-M 4% + Mancozeb 64% (Ridomil Gold MZ ® 4/64 WP) pada konsentrasi 3 g/l air, bergantian dengan fungisida kontak seperti klorotalonil (Daconil ® 500 F, 2g/l). Fungisida sistemik digunakan maksimal empat kali per musim. 6. Untuk mengurangi penggunaan pestisida (+ 30%) dianjurkan untuk menggunakan nozel kipas yang butiran semprotannya berupa kabut dan merata. Penyakit : Layu Fusarium Patogen : Fusarium oxysporum Gejala : Gejala yang paling menonjol adalah daun kekuningan dan layu yang dimulai dari daun bagian atas. Kelayuan ini terjadi secara bertahap sampai terjadi kelayuan permanen beberapa waktu kemudian dan daun tetap menempel pada batang (Gambar 13). Jaringan vaskular berwarna coklat terutama pada batang bagian bawah dekat akar (Gambar 14). Menjelang kematian tanaman tidak ada perubahan warna, secara eksternal pada batang maupun akar, jaringan kortikal masih tetap utuh. Gejala yang sama akan nampak pada tanaman dalam masa generatif. Pencegahan dan pengendalian : 1. Tanah-tanah yang terkontaminasi penyakit layu jangan digunakan. Infeksi penyakit layu dapat dipelajari pada tanaman sebelumnya. 2. Membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman dan gulma
3. Patogen yang mati : 
    penyakit-penyakit fisiologi yang disebabkan oleh kahat atau kelebihan hara, sinar, kelembaban, pupuk atau kondisi lingkungan lainnya termasuk ke dalam kelompok ini
Setiap fase pertumbuhan tanaman memiliki kerentanan yang berbeda. Hal ini menyebabkan jenis penyakit dominan yang menyerang setiap fase pertumbuhan berbeda pula. Pada masa-masa tersebut ada penyakit yang menjadi penyakit utama dan ada pula yang dapat diabaikan. Mengetahui jenis penyebab penyakit (patogen) yang benar adalah penting untuk menentukan pengendalian yang harus dilakukan.
 Gejala-gejala visual kunci suatu penyakit menjadi petunjuk kepada penentuan patogen penyebabnya. Gangguan penyakit maupun hama pada tanaman cabai sangat kompleks, baik pada musim hujan maupun musim kemarau, dan menimbulkan kerugian cukup besar. Untuk mengatasi masalah ini umumnya dilakukan pengendalian secara konvensional, yaitu penggunaan pestisida secara intensif. Dilaporkan bahwa biaya penggunaan pestisida di daerah Brebes dapat mencapai 51 % dari biaya produksi variabel dan kira-kira sebesar 17,6 % digunakan untuk mengatasi penyakit tanaman, sedangkan sisanya adalah penggunaan insektisida (Basuki 1988). Penggunaan pestisida berlebih selain tidak efisien juga dapat menimbulkan berbagai masalah serius seperti akumulasi residu pestisida, penyakit menjadi resisten, epidemi penyakit, terbunuhnya musuh alami dan pencemaran lingkungan. Jalan keluar dari masalah ini adalah pengendalian penyakit dengan konsep pengelolaan tanaman secara terpadu (PTT), yaitu penggabungan berbagai upaya tindakan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit untuk mendapatkan tanaman cabai yang sehat, aman dan bebas dari cemaran yang membahayakan.
 Duriat et al. (1994) melaporkan bahwa embun tepung Leveillula taurica yang menyerang daun cabai cukup parah, di mana pada tahun-tahun berikutnya penyakit ini tidak dilaporkan muncul lagi. Pada tahun itu dilaporkan bahwa penyebab penyakit kerupuk pada cabai Monografi No. 31, Tahun 2007 A.S. Duriat, N. Gunaeni dan A.W. Wulandari : Penyakit Penting Tanaman Cabai dan Pengendaliannya Balai Penelitian Tanaman Sayuran 4 adalah kelompok virus luteo (Duriat 1994). Namun pada kurun waktu dua tahun berikutnya (setelah publikasi Suryaningsih et al. 1996) hasil penelitian lanjutannya membuktikan bahwa penyebab virus kerupuk itu dari kelompok virus Hordei dan diberi nama Chilli Puckery Stunt Virus (CPSV) atau virus keriting kerdil cabai (Duriat 1996 ; Duriat dan Gunaeni 2003). Dari penelitian Purwati et al. (2000) kehilangan hasil panen 10 varietas cabai akibat penyakit kerupuk itu adalah berkisar antara 35-98%. Contoh lain yang terjadi di Malaysia, status virus pada cabai yang dilaporkan oleh Fujisawa et al. (1986) telah berubah secara dramatis setelah survai berikutnya yang dilakukan oleh Roff dan Ong (1992). Di Indonesia sendiri terjadi pergeseran urutan status virus. Hasil survai Balitsa tahun 1986 dan 1990 dilaporkan urutan tiga virus utama yaitu CMV, PVY dan TRV/TEV. Pada tahun 1992 dan 1995 urutan berubah menjadi CMV, CVMV dan PVY. Virus belang kuning telah ditemukan penulis sejak tahun 1992 pada beberapa tanaman cabai. Pada pertemuan AVNET tahun 1996 di Bangkok ditetapkan bahwa virus Gemini menjadi virus potensial oleh enam negara Asean sebagai peserta. Pada tahun 1998 serangan virus ini banyak ditemukan pada tanaman tomat dan telah menghancurkan paling sedikit enam hektar pertanaman tomat di daerah Tulungagung. Virus Gemini pada tomat ini disebut Tomato Yellow Leaf Curl Virus atau disingkat TYLCV (Duriat 2002). Virus Gemini pada cabai yang gejalanya sudah nampak pada tahun 1992, pada tahun 2001 serangan sudah mulai luas, menyerang hampir setiap pertanaman cabai di kebun percobaan Balitsa. Kemungkinan waktu itu serangan virus ini sudah nampak di berbagai lokasi. Pada akhir tahun 2002 atau awal 2003 dilaporkan bahwa virus Gemini telah menjadi epidemi dan hasil panen menjadi puso di daerah Yogyakarta, Magelang, Lampung, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Selatan (Hidayat 2003; Hartono 2003).
 DESKRIPSI PENYAKIT PADA TANAMAN CABAI BERDASARKAN FASE PERTUMBUHAN TANAMAN 
1. Penyakit Terbawa Biji Dilaporkan bahwa biji cabai dapat membawa penyakit (seed-borne disease) dan ini cukup membahayakan tanaman-tanaman berikutnya. Patogen yang terbawa ini adalah dari kelompok patogen hidup dan gejala penyakit umumnya tidak muncul pada biji.
1.1. Bakteri Penyakit : Tidak bernama Patogen : Xanthomonas campestris pv. vesicatoria Gejala : Tidak tampak, penampakan biji seperti biji normal yang sehat Pencegahan dan pengendalian : 1. Gunakan benih bersertifikat 2. Rendam dengan NaOCl 1,3% selama 1 menit atau larutan CuSO4 konsentrasi 0,75% selama 10 menit. 4.1.2. Cendawan Penyakit : Tidak bernama Patogen : Colletotrichum spp. (capsici dan gloeosporioides) Gejala : Tidak semua biji yang tercemar memperlihatkan gejala, ada kalanya nampak seperti biji yang sehat, bersih dan bebas cemaran. Biji yang terkontaminasi cendawan ini berwarna hitam atau coklat kehitaman dengan bentuk biji tidak bernas 
 Pencegahan dan pengendalian : 0
 1. Gunakan benih bersertifikat 
2. Tidak mengikutsertakan biji yang berbentuk dan berwarna abnormal.
3. Beri perlakuan perendaman dengan air panas ± 55°C selama 30 menit, atau fungisida dari golongan sistemik (seperti Triazole atau Pyrimidin 0,05-0,1%) selama kurang lebih satu jam. 
A.Virus Pada Tanaman Cabai : 
Tidak bernama Patogen : Tobacco Mosaic Virus (TMV), kadang Cucumber Mosaic Virus (CMV) 
Gejala  penyakit                                    
Tidak tampak, penampakan biji seperti biji normal yang sehat Pencegahan dan pengendalian : 
1. Gunakan benih yang berserfikat
 2. Direndam dalam larutan 10% Na3PO4 selama 1-2 jam, kalau bijinya kering rendam sampai 1 malam. 
Penyakit di Persemaian 
1. Bakteri Penyakit : Layu bakteri Patogen : Ralstonia solanacearum
 Gejala                                 : Tanaman muda layu yang dimulai dari pucuk, selanjutnya seluruh bagian tanaman layu dan mati 
Pencegahan dan pengendalian : 
1. Media untuk penyemaian menggunakan lapisan sub soil 1,5-2 m di bawah permukaan tanah), pupuk kandang matang yang halus dan pasir kali pada perbandingan 1:1:1. Campuran media ini dipasteurisasi selama 2 jam. 
2. Semaian yang terinfeksi penyakit harus dicabut dan dimusnahkan, media tanah yang terkontaminasi dibuang. 
3. Naungan persemaian secara bertahap dibuka agar matahari masuk dan tanaman menjadi lebih kuat.
 4. Penggunaan fungisida/bakterisida selektif dengan dosis batas terendah.
 B. Cendawan Penyakit : 
Rebah kecambah atau damping off Patogen : Salah satu dari Rhizoctonia solani, Pythium spp. Fusarium spp. Phytophthora sp. atau Colletotrichum spp. 
Gejala : Semaian cabai gagal tumbuh, biji yang sudah berkecambah mati tiba-tiba atau semaian kerdil karena batang bawah atau leher akar busuk dan mengering. Pada bedengan persemaian nampak kebotakan kecambah atau semaian cabai secara sporadis dan menyebar tidak beraturan.
 Pencegahan dan pengendalian : 
1. Media untuk penyemaian menggunakan lapisan sub soil (1,5-2 m di bawah permukaan tanah) dan pupuk kandang matang yang halus dan pasir kali pada perbandingan 1 : 1 : 1. Campuran media ini dipasteurisasi selama 2 jam. 
2. Semaian yang terinfeksi penyakit harus dicabut dan dimusnahan, media tanah yang terkontaminasi dibuang. 
3. Naungan persemaian secara bertahap dibuka agar matahari masuk dan tanaman menjadi lebih kuat. 
4. Penggunaan fungisida selektif dengan dosis batas terendah. 
 Nematoda Penyakit : Nematoda bengkak akar Patogen : Meloidogyne spp. Gejala : Semaian agak kekuningan namun sering nampak seperti tanaman sehat, ada bintil akar yang tidak bisa lepas walaupun akar diusap lebih keras.
Pencegahan dan pengendalian :
 1. Media untuk penyemaian menggunakan lapisan sub soil (1,5-2,0 m di bawah permukaan tanah) dan pupuk kandang matang yang halus dan pasir kali pada perbandingan 1 : 1 : 1. Campuran media ini dipasteurisasi selama 2 jam. 
2. Semaian yang terinfeksi penyakit harus dicabut dan dimusnahkan, media tanah yang terkontaminasi dibuang. 
 Virus Penyakit : Mosaik belang kuning atau klorosis Patogen : Potato Virus (PVY), CMV atau Tobacco Etch Virus (TEV), atau TMV Gejala : Warna daun belang klorosis atau kuning. 
Pencegahan dan pengendalian :
 1. Semaian yang terinfeksi penyakit harus dicabut dan dimusnahkan, media tanah yang terkontaminasi dibuang. 
2. Gunakan insektisida yang efektif dan dianjurkan untuk mengendalikan vektornya (kutudaun).  Infeksi Colletotrichum spp. pada biji, kadang-kadang berwarna hitam atau coklat dan biji tidak bernas (Duriat et al. 2002). Kematian semaian cabai/ tanaman muda karena penyakit rebah kecambah (Black et al. 1991)

Komentar

Postingan populer dari blog ini